Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Latar Belakang Pendudukan Jepang dan Respons Bangsa Indonesia

Pendudukan Jepang di Indonesia

Kita semua tahu bahwa Jepang itu sangat licik saat menjajah di wilayah Indonesia. Sekitar 3,5 tahun lamanya, bangsa Indonesia diperlakukan tidak adil dan kejam oleh bangsa Jepang seperti contohnya kebijakan romusha. Seperti apa sejarah latar belakang pendudukan Jepang di Indonesia? Nah, pada artikel kali ini akan di bahas mengenai sejarah latar belakang pendudukan Jepang di Indonesia, termasuk respons bangsa Indonesia terhadap kedatangan Jepang.

Pendudukan Jepang di Indonesia

Jepang menjajah Indonesia dalam kurun waktu 1942-1945, kala itu Jepang ikut andil dalam Perang Dunia II. Pada kurun waktu 1941-1945 di dunia sedang terjadi Perang Dunia II yang di mana hampir setiap negara terlibat dalam perang tersebut, Perang Dunia II ini menghasilkan dua aliansi atau kelompok besar yang saling bertentangan untuk berperang.

Dua kelompok tersebut yaitu aliansi poros dan aliansi sekutu, negara poros yaitu Italia, Jerman, dan Jepang melawan negara sekutu (negara sekutu tersebut tergabung dalam 25 negara yang salah satunya adalah Belanda, Inggris, Uni Soviet, Tiongkok, Perancis) ketika itu Amerika Serikat tidak masuk kedalam dua aliansi tersebut karena masih bersikap netral atau tidak memihak salah satu dari dua kelompok tersebut.

Akhir tahun 1941 menjadi awal kemenangan dari blok poros di mana ketiga negara tersebut hampir bisa melumpuhkan 25 negara yang tergabung dalam blok sekutu, kemudian dibagikan tugas untuk mengatur perang agar meraih kemenangan PD II.

Italia dan Jerman berpusat untuk menguasai negara-negara Eropa sedangkan Jepang sendiri berpusat untuk menjajah negara-negara di Asia (yang nanti namanya berubah menjadi perang Asia-Pasifik, karena Jepang pusat perangnya ada di sana), dan rencana dari blok poros itu sangat lancar.

Di awal tahun 1942 Jepang mampu kira-kira menguasai 75% daratan benua Asia, negara tersebut mengusir negara-negara Eropa yang sedang menjajah di Asia termasuk Indonesia.

Terdapat salah satu tindakan Jepang yang sangat salah yakni mereka melakukan pengeboman di Pearl Harbour, pangkalan militer Amerika Serikat di Hawaii, benua Asia. Pengeboman ini menjadi awal mula Amerika Serikat ikut dalam PD II dan tergabung dalam aliansi sekutu.

Awalnya pemboman ini menjadi tolak ukur kemenangan Jepang di Asia karena berhasil melumpuhkan kekuatan AS di Asia, tetapi pemboman ini di akhir PD II menjadi bumerang sendiri untuk Jepang nantinya.

Pada awal tahun 1942 Indonesia masih dijajah oleh Belanda tetapi Jepang mampu dengan mudah mengusir Belanda dari Indonesia. Mengapa demikian? Negara Italia dan Jerman terlibat membantu di sini, ketika Jepang masuk ke Indonesia kala itu pemerintahan Belanda sedang kacau karena di negaranya sendiri (di benua Eropa) sedang diserang oleh kedua negara tersebut (Italia dan Jerman).

Dampak dari hal tersebut yaitu pemerintahan Belanda di Indonesia ketika tahun 1942 sangatlah kacau. Oleh karena itulah Jepang dengan sangat mudah nantinya menguasai Indonesia dan Belanda menyerahkan Indonesia tanpa syarat kepada Jepang.

Proses Masuknya Jepang ke Wilayah Indonesia

Masuknya Jepang ke wilayah Indonesia berawal dengan serangan pendaratan dan udara pasukannya. Beberapa tempat pertama kali yang diduduki bangsa Jepang adalah daerah-daerah sumber minyak seperti Tarakan, Palembang, dan Balikpapan.

Mengapa Jepang memilih daerah sumber minyak? Nah, minyak di sini sangat dibutuhkan Jepang untuk pelumas senjata seperti Pesawat dan Tank. Berbagai peralatan tersebut digunakan Jepang dalam menggempur musuh-musuhnya di Perang Asia Timur Raya (Perang Pasifik/Perang Dunia II).

Jepang tiba pertama kali di Indonesia di Tarakan (Kalimantan Timur) pada 11 Januari 1942. Setelah berhasil menduduki Tarakan, pasukan Jepang mulai menyerbu kota-kota bandar minyak lainnya di Pulau Kalimantan. Pada 24 Januari 1942 pemerintah Jepang berhasil mengakuisisi Balikpapan. Pontianak berhasil ditaklukkan dan dikuasai pasukan Jepang pada 29 Februari 1942, Samarinda pada 3 Februari 1942, dan Kotabangun pada 5 Februari 1942. Perjalanan berikutnya, bangsa Jepang menduduki Banjarmasin pada 10 Februari 1942.

Setelah berhasil menduduki kota-kota penting di Kalimantan, Jepang melanjutkan ekspansinya ke wilayah Sumatra. Pada 14 Februari 1942 di Kota Palembang, Jepang menurunkan pasukan payungnya. Kemudian, pada 16 Februari 1942 Palembang dan sekitarnya berhasil diduduki pasukan Jepang. Jatuhnya Palembang ke tangan Jepang ini memudahkan jalan Jepang untuk menguasai Jawa sebagai pusat kekuatan militer dan pemerintahan Hindia Belanda.

Kedatangan Jepang di Pulau Jawa

Proses masuknya Jepang ke Pulau Jawa diawali dengan peperangan di Laut Jawa. Angkatan Laut Jepang dalam peperangan tersebut berhasil menghancurkan pasukan gabungan Belanda–Inggris yang dipimpin oleh Laksamana Karel Doorman.

Beberapa pasukan dan kapal dari Belanda yang berhasil kabur langsung segera melarikan diri menuju Australia. Dalam peperangan laut itu, Jepang hanya kehilangan beberapa kapal penjelajah, tujuh kapal perusak, dan satu kapal tanker.

Kemenangan Jepang memudahkan pasukannya untuk mulai mendarat di Pulau Jawa. Pendaratan pasukan Jepang tersebut ditugaskan untuk menjajah Pulau Jawa di bawah komando Tentara ke-16 (Osamu Butai) yang dipimpin oleh Letnan Jenderal Hitoshi Imamura.

Tentara ke-16 Jepang berhasil mendatangi tiga tempat sekaligus pada 1 Maret 1942 yang diantaranya adalah Teluk Banten, Eretan Wetan (Jawa Barat), dan Kragan (Jawa Timur). Setelah pendaratan, pada 5 Maret 1942 Batavia (yang kini wilayahnya kurang lebih menjadi Jakarta) dinyatakan sebagai ”kota terbuka”. Artinya, pasukan tentara Belanda tidak akan mempertahankan Batavia dari serangan pasukan Jepang. Pada akhirnya, wilayah Batavia jatuh ke tangan Jepang.

Kesuksesan merebut Batavia kemudian dilanjutkan perjalanannya dengan menginvasi ke arah selatan dan berhasil menduduki Buitenzorg (Bogor). Kemudian, pasukan Jepang berusaha merebut Kota Bandung. Pada 5 Maret 1942 Tentara Jepang mulai bergerak dari Kalijati ke arah Bandung. Pasukan Jepang menyerang Bandung dari arah utara. Ciater menjadi tempat pertama yang digempur oleh pasukan Jepang dan mengakibatkan tentara Belanda harus mundur ke Lembang. Namun, Lembang pun tidak berhasil dipertahankan oleh Belanda.

Pasukan Jepang berhasil menguasai Lembang pada 7 Maret 1942. Belanda meminta penyerahan lokal kepada pasukan Jepang. Akan tetapi, Jenderal Imamura meminta penyerahan total dari semua pasukan Sekutu yang ada di wilayah Indonesia. Apabila tuntutan tersebut tidak dipenuhi segera, pasukan Jepang mengultimatum akan mengebom Kota Bandung dari udara.

Keesokan harinya, tepat pada 8 Maret 1942 Belanda memenuhi tuntutan Jepang. Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh, Letnan Jenderal H. Ter Poorten, dan pejabat-pejabat militer lainnya mendatangi Kalijati untuk mengadakan sebuah perundingan. Letnan Jenderal Imamura langsung menjadi pemimpin pihak Jepang.

Dalam perundingan tersebut, Belanda menyerahkan semuanya tanpa syarat kepada Jepang melalui penandatanganan Kapitulasi Kalijati. Dengan kejadian tersebut, berakhirlah masa penjajahan Belanda sekaligus menjadi awal periode pendudukan Jepang di Indonesia.

Nah, dapat disimpulkan bahwa hanya dalam waktu kurang dari 3 bulan pasukan Jepang sudah mampu menguasai seluruh wilayah Indonesia dan menyakinkan para rakyat Indonesia. Berbeda ketika masa kolonial Belanda yang butuh waktu puluhan tahun untuk mampu menguasai seluruh wilayah Indonesia.

Sambutan Bangsa Indonesia terhadap Kedatangan Jepang

Jepang disambut dengan penuh sukacita oleh bangsa Indonesia pada awal kedatangannya. Sambutan positif tersebut kemudian dimanfaatkan dengan baik oleh pasukan Jepang.

Pasukan Jepang mempropagandakan bahwa kedatangannya ke Indonesia memiliki tujuan baik membebaskan bangsa Indonesia dari cengkeraman penjajahan bangsa-bangsa Barat, yang tidak lain utamanya adalah Belanda. Jepang juga berjanji untuk memajukan kehidupan bangsa Indonesia yang makmur.

Untuk lebih meyakinkan hatinya lagi, Jepang menegaskan bahwa mereka adalah "saudara tua" bangsa Indonesia. Sebagai saudara tua, sudah selayaknya Jepang membawa kemakmuran dan kesejahteraan bagi bangsa Indonesia.

Pemerintah Jepang juga melakukan beberapa propaganda untuk menarik simpati dan dukungan dari bangsa Indonesia. Pada awal kedatangannya, Jepang mengizinkan bangsa Indonesia mengibarkan bendera Merah Putih berdampingan dengan bendera Jepang, Hinomaru.

Nah, beberapa faktor itulah yang menyebabkan pada awal kedatangannya Jepang mendapat sambutan positif dari bangsa Indonesia.

Post a Comment for "Latar Belakang Pendudukan Jepang dan Respons Bangsa Indonesia"